Serah Terima Masker dan Jamu Immune Booster Dengan bahan Baku Dari Desa Penyelamat Areal Berhutan di APL

Samarinda, 8 Juni 2020

Bertempat di Kantor Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jakarta dan Laboratorium Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman, Gunung Kelua, Samarinda, Kalimantan Timur, Senin, 8 Juni 2020, pk, 11.00 – 12.00 WITA / 10.00 – 11.00 WIB (60 menit), dipimpin oleh Direktur Jenderal PKTL KLHK, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Timur dan Kepala Bappeda Kutai Timur, telah dilaksanakan serah terima masker dan jamu Immune Booster dengan bahan baku yang berasal dari Desa Penyelamat Areal Berhutan di APL Kabupaten Kutai Timur (Desa Saka, Sempayau dan Batu Lepoq). Serah terima masker sebanyak 1000 buah dari Sekditjen PKTL selaku National Project Director KalFor Project kepada Dirjen PKTL KLHK. Serah terima jamu Immune Booster dari Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman didampingi Bio Perkasa kepada Tenaga Kesehatan di Samarinda. Dikarenakan Pandemi COVID-19, sebagian peserta (Jakarta & Sangatta) mengikuti acara serah terima melalui fasilitas Zoom Meeting.

Proyek Penguatan Perencanaan dan Pengelolaan Kawasan Hutan di Kalimantan (KalFor) adalah proyek kerjasama antara Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan (PKTL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia dengan United Nation Development Programme (UNDP) yang berlokasi di Kalimantan Barat (Ketapang dan Sintang), Kalimantan Tengah (Kotawaringin Barat) dan Kalimantan Timur (Kutai Timur). Di Kalimantan Timur, kerjasama ditandai dengan penandatangan MoU antara Direktur Jenderal PKTL-KLHK/UNDP dengan Gubernur Provinsi Kalimantan Timur dan Bupati Kabupaten Kutai timur pada tanggal 18 Oktober 2019 di Samarinda.

Empat komponen kegiatan proyek adalah: (i) mengarusutamakan jasa ekosistem hutan dan pertimbangan keanekaragaman hayati ke dalam kebijakan nasional dan provinsi dan proses pengambilan keputusan untuk perencanaan dan pengelolaan hutan di luar kawasan hutan, (ii) mengembangkan dan mendemonstrasikan strategi untuk integrasi perencanaan pengelolaan hutan dan konservasi dengan di areal penggunaan lain dan atau lahan perkebunan di 4 (empat) kabupaten di Kalimantan, (iii) melakukan pengujian / demonstrasi mekanisme insentif yang inovatif untuk mengurangi deforestasi yang terkait dengan sektor perkebunan, dan (iv) melakukan manajemen pengetahuan dan evaluasi pemantauan.

Dari penyusunan baseline yang dilaksanakan tahun 2019, ditemukan bahwa desa-desa yang berdampingan dengan areal berhutan di APL telah melakukan upaya pengelolaan hutan tersebut, baik perlindungan maupun pemanfaatan, yang berdampak pada kelestarian areal berhutan di sekitar desa. Didapatkan informasi pula bahwa terdapat potensi hutan yang secara berkelanjutan dapat menjadi sumber peningkatan kesejahteraan desa-desa tersebut.

Dengan model pembangunan desa berlandaskan business as usual yang ada, keberhasilan pengelolaan areal berhutan di APL yang ada di desa tersebut sulit untuk mencapai hasil yang maksimal sesuai dengan harapan, yakni pengelolaan areal berhutan di APL yang berkelanjutan. Untuk mencapai hasil yang maksimal, pemerintah desa dan masyarakatnya perlu mempunyai kemampuan pengetahuan dan pengelolaan hutan di APL yang memadai serta perlunya pembangunan Desa yang dijalankan secara lebih inovatif dan berkualitas.

Dirjen PKTL, Prof Dr. Ir. Sigit Hardwinarto, M.Agr menyampaikan bahwa ‘Potensi sumberdaya alam dan hutan yang ada di desa-desa yang berdampingan dengan areal berhutan di APL tersebut diketahui berpotensi untuk dikembangkan sebagai bagian dari peningkatan kesejahteraan masyarakat desa. Salah satu potensi hasil hutan bukan kayu yang dapat dikembangkan adalah berbagai tumbuhan yang ada dapat dimanfaatkan sebagai bahan obat atau penunjang kesehatan. Pemanfaatan tumbuhan obat ini digunakan oleh masyarakat desa yang bermukim di dalam atau sekitar hutan untuk menyembuhkan berbagai penyakit yang diderita ataupun yang berhubungan kesehatan. Pemanfaatan tersebut dilakukan secara turun temurun karena mempercayai dan meyakini kebenaran manfaatnya. Cara pemanfaatan tumbuhan tersebut ditentukan oleh kebudayaan setempat sebagai pengetahuan yang diyakini serta menjadi sumber sistem nilai bagi kepercayaan mereka.

Pada sisi lainnya, Indonesia saat ini tengah menghadapi krisis kesehatan sebagai akibat dari menyebarnya penyakit koronavirus 2019 (atau disebut coronavirus disease 2019, disingkat COVID-19). Berbagai upaya dilakukan oleh banyak pihak baik di tingkat global, nasional maupun daerah untuk bersama-sama melawan penyebaran virus berbahaya ini. Literatur menyebutkan bahwa mempertahankan imunitas tubuh menjadi penting dalam menghadapi virus ini, karena secara khusus saat ini obat untuk virus ini belum ditemukan. Peningkatan imunitas tubuh ini diketahui salah satunya bisa didapatkan dengan mengkonsumsi berbagai jenis ramuan yang berasal dari tumbuhan. Kajian untuk ini telah banyak dilakukan, termasuk pula oleh para peneliti di daerah-daerah.

Drs. H. Amrullah, M.M., Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Timur menyampaikan penghargaan kepada Dirjen PKTL KLHK dan UNDP yang melalui KalFor telah menyusun baseline Kondisi Hutan di APL di Kabupaten Kutai Timur yang memberikan informasi lengkap tentang luasan, potensi dan kondisi social ekonomi masyarakat. Manfaat dari hasil yang disusun tersebut adalah pemerintah daerah dapat menyusun berbagai rencana kegiatan yang akurat dan tepat salah satunya kegiatan peningkatan kesejahteraan masyarakat yang dilaksanakan pada hari ini.

Dari kombinasi informasi potensi sumberdaya hutan yang ada di APL Kabupaten Kutai Timur dan kondisi krisis karena Covid-19 di atas, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bekerjasama dengan UNDP Indonesia melalui Proyek KalFor berinisiatif untuk mendorong implementasi strategi insentif bagi Kelompok Masyarakat pengelola areal berhutan di APL. Bentuk insentif yang menjadi salah satu strategi perlindungan areal berhutan di APL untuk tingkat desa ini, akan langsung bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat, juga diarahkan untuk berkontribusi langsung pada penekanan penyebaran virus Corona melalui peningkatan imunitas tubuh yang bahan bakunya bersumber dari potensi produk HHBK di desa-desa dimana Kelompok Masyarakat yang melindungi hutan di APL tersebut berada.

Kepala Bappeda Kutai Timur, DR HM Edward Azran SE MS menyampaikan bahwa sebagian bahan baku yang digunakan dalam pembuatan Immune Booster ini berasal dari desa di Kutai Timur dan berlimpah. Yang diperlukan saat ini adalah dukungan untuk mengembangkan agar lebih dapat bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat desa.

Ke depan, banyak potensi serupa Kabupaten Kutai Timur yang dapat dikembangkan. Pengetahuan dan kearifan masyarakat dalam mengelola sumberdaya alam, lingkungan dan khususnya hutan ini perlu dihubungkan dengan para ilmuan yang memang memiliki kepakaran pada bidang-bidang tertentu, misalnya pemanfaatan untuk imunitas tubuh ini. Beliau juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan – KLHK yang melalui KalFor Project telah membantu dan memfasilitasi masyarakat desa di Kutai Timur.

Prof. Dr. Rudianta Amirta, Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman menyampaikan bahwa bahan baku berupa tumbuhan obat hutan dan pekarangan dipasok oleh Masyarakat di 3 Desa yang telah melindungi areal berhutannya, yaitu Desa Saka dan Desa Sempayau di Kecamatan Sangkulirang, serta Desa Batu Lepoq, Kecamatan Karangan, Kabupaten Kutai Timur. Bahan tersebut kemudian diolah menjadi Immune Booster oleh perusahaan BIO PERKASA bekerjasama dengan Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman, Satgas COVID-19 UNMUL dan IDI Kaltim. Immune Booster selanjutnya di distribusikan secara gratis untuk para tenaga kesehatan dan pihak-pihak yang membutuhkan. Lebih dari 200 botol Immune Booster didistribusikan.

Dalam satu rangkaian aktivitas ini, juga diproduksi 100 Pocket Book (Buku Saku) yang berisi panduan sederhana budidaya tanaman-tanaman bermanfaat di desa sekitar hutan dan panduan produksi Immune Booster dengan teknologi sederhana yang dapat diaplikasikan oleh masyarakat di tingkat Desa. Panduan yang didistribusikan ke desa-desa pengelola hutan di APL Kutai Timur tersebut diproyeksikan dapat bermanfaat bagi pengembangan usaha alternatif di tingkat desa. Untuk jangka panjang, upaya ini didorong agar menjadi usaha kelompok masyarakat yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.

Dr. Agus Prabowo (Head of Environment UNDP) menyampaikan apresiasi inisiatif bentuk penyediaan insentif untuk aktivitas penyelamatan dan perlindungan areal berhutan di APL, diharapkan rangkaian proses produksi ini memberikan triple effect yang sangat berarti; Perlindungan hutan di APL, Peningkatan Pendapatan Masyarakat dan Kontribusi terhadap upaya menekan penyebaran COVID-19. Beliau menegaskan bahwa untuk menjamin keberlanjutan maka ide-ide seeprti ini harus selalu menjadi komitmen para pihak di Kalimantan Timur dan Kutai Timur karena KalFor hanyalah fasilitator yang berdurasi pendek sedangkan kesejahteraan masyarakat merupakan tugas yang tidak akan berhenti dengan inovasi-inovasi baru lainnya.Kegiatan ini juga merupakan wujud nyata untuk memastikan tercapainya Tujuan Pembangunan yang Berkelanjutan ( Sustainable Development Goals ). Terutama nomor 1,2,3,5,15, yakni mengentaskan kemiskinan (1), tidak ada yang kelaparan (2), kondisi yang sehat dan sejahtera (3), kesetaraan gender (5), kehidupan di bumi (15).

Sebagai rangkaian kegiatan di Samarinda pada hari yang sama di Jakarta, Plt. Sekretaris Ditjen PKTL/Staf Khusus Menteri LH/Tenaga Ahli Menteri LH menyerahkan 200 pcs masker kepada Direktur Jenderal PKTL untuk menyambut NEW NORMAL. Masker tersebut dibagikan kepada jajaran Ditjen PKTL supaya secara displin mengikuti protocol yang ditetapkan oleh Pemerintah. Masker yang diproduksi oleh KalFor tidak hanya dibagikan di Jakarta, akan tetapi juga disampaikan kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, kabupaten Ketapang dan Sintang serta Desa Ensaid Panjang, Provinsi Kalimantan Tengah dan kabupaten Kotawaringin Barat serta Provinsi Kalimantan Timur dan Kabupaten Kutai Timur, masing-masing 200 pcs

/ Aktifitas Proyek